#OptimisKamiSepanjangHari
Wednesday, April 23, 2014
Motivation begins
Increase your desire by anticipating rewards of success
Value your time with the Lord
Ask for help
Take your first step
Identify yourself with an achiever
Occupy your mind and time with positive activities
Nod yourself to every ideas, even the craziest ones
LELAH, bersyukur...
Judul asli: ketika engkau merasa LELAH
Saat ragamu lelah, maka bersyukurlah bahwa sehari ini kau telah
berbuat banyak untuk dirimu dan keluargamu. Kau membahagiakan mereka,
kau menenangkan mereka dengan hasil jerih payahmu yang melelahkan. Kau
damaikan mereka karena tercukupinya kebutuhan mereka. Lihatlah betapa
kehadiranmu memang memang pantas untuk di syukuri oleh sekitarmu, maka
bersyukurlah atas karunia dari Allah itu, yang menjadikanmu pantas untuk
menjadi yang di banggakan.
Saat lidahmu lelah, maka diamlah. Mungkin dia terlalu capek atas huruf- huruf dusta yang terpaksa dilakoninya atas perintah kepentingan dan nafsumu. Atau mungkin dia terlalu bosan dengan kata- kata bijak penuh kebaikan yang kau keluarkan, namun ternyata tidak selaras dengan kenyataan yang kau wujudkan. Atau dia terlalu rindu dengan kalimat- kalimat mulia yang menjadikan lidahmu sendiri itu sebagai pembelamu, saat nanti kalian berada dipengadilan Allah.
Saat matamu lelah, maka pejamkan dan istirahatkanlah dia. Rasakanlah betapa kekhasan dari sebuah nikmat itu memang tengah menaungimu lewat indahnya memiliki sebuah pandangan. Maka jangan jadikan dia lelah karena terus-menerus menjadi salah satu donatur dosa yang justru menggiringmu ke neraka. Dan jangan jadikan dia lelah karena terus-menerus kau paksa untuk tetap terjaga, mengikuti ambisimu dalam menggenggam dunia. Sadarilah kerinduannya akan sebuah keteduhan yang begitu di dambanya sebagai salah satu cabang dari cerminan hatimu. Penuhilah keinginannya untuk lebih ringan dalam memandang sebuah bentuk dari egomu.
Saat kakimu lelah, maka nyamankan dia. Nyamankan dengan berhenti untuk tetap berdiri dalam sebuah kemaksiatan. Bahkan kakipun juga adalah prajurit dari sebuah hatimu sendiri. Dia juga merupakan karunia nikmat dari Allah, tapi juga bisa menjadi korban dari nafsumu jika kau tak baik- baik dalam menjaganya. Istirahatkan dia dari langkah yang terus-menerus demi memenuhi hasrat pikiran dan kamuan ambisimu.
Saat hatimu lelah… mungkin kepentingan duniawimu sudah terlalu menyesakkan dada, sedang naluri ruhiyahmu sudah terlalu lapar dan meminta disegerakan atas pemenuhan haknya. Maka berhentilah sebentar, dan berilah jeda waktu untuknya. Biarkan manusiawi sebuah hatimu itu bertemu dengan yang menciptakannya. Biarkan rongga kosong itu terpenuhi oleh kebutuhan akan kedekatan dengan tuhannya. Biarkan dia belajar untuk menginsyafkan kembali prajurit indrawinya yang mungkin masih masih bandel untuk berada dalam kebaikan.
Biarkan sebentar dia menjadi penyaring untuk membedakan yang benar dan salah. Dan biarkan lebih lama, dia menuntunmu untuk menyegarkan dan menyemangatimu kembali, sehingga keluhan dan kelelahanmu bisa diselesaikan olehnya.
Saat kau telah begitu lelah… beristigfarlah atas apa yang telah membuatmu seperti itu dan kemudian istirahatkan kelelahanmu, selanjutnya serahkan urusanmu kepada yang Maha terjaga, Allah Subhanahu Wata’la.
Saat ragamu lelah, maka bersyukurlah bahwa sehari ini kau telah
berbuat banyak untuk dirimu dan keluargamu. Kau membahagiakan mereka,
kau menenangkan mereka dengan hasil jerih payahmu yang melelahkan. Kau
damaikan mereka karena tercukupinya kebutuhan mereka. Lihatlah betapa
kehadiranmu memang memang pantas untuk di syukuri oleh sekitarmu, maka
bersyukurlah atas karunia dari Allah itu, yang menjadikanmu pantas untuk
menjadi yang di banggakan.
Saat lidahmu lelah, maka diamlah. Mungkin dia terlalu capek atas huruf- huruf dusta yang terpaksa dilakoninya atas perintah kepentingan dan nafsumu. Atau mungkin dia terlalu bosan dengan kata- kata bijak penuh kebaikan yang kau keluarkan, namun ternyata tidak selaras dengan kenyataan yang kau wujudkan. Atau dia terlalu rindu dengan kalimat- kalimat mulia yang menjadikan lidahmu sendiri itu sebagai pembelamu, saat nanti kalian berada dipengadilan Allah.
Saat matamu lelah, maka pejamkan dan istirahatkanlah dia. Rasakanlah betapa kekhasan dari sebuah nikmat itu memang tengah menaungimu lewat indahnya memiliki sebuah pandangan. Maka jangan jadikan dia lelah karena terus-menerus menjadi salah satu donatur dosa yang justru menggiringmu ke neraka. Dan jangan jadikan dia lelah karena terus-menerus kau paksa untuk tetap terjaga, mengikuti ambisimu dalam menggenggam dunia. Sadarilah kerinduannya akan sebuah keteduhan yang begitu di dambanya sebagai salah satu cabang dari cerminan hatimu. Penuhilah keinginannya untuk lebih ringan dalam memandang sebuah bentuk dari egomu.
Saat kakimu lelah, maka nyamankan dia. Nyamankan dengan berhenti untuk tetap berdiri dalam sebuah kemaksiatan. Bahkan kakipun juga adalah prajurit dari sebuah hatimu sendiri. Dia juga merupakan karunia nikmat dari Allah, tapi juga bisa menjadi korban dari nafsumu jika kau tak baik- baik dalam menjaganya. Istirahatkan dia dari langkah yang terus-menerus demi memenuhi hasrat pikiran dan kamuan ambisimu.
Saat hatimu lelah… mungkin kepentingan duniawimu sudah terlalu menyesakkan dada, sedang naluri ruhiyahmu sudah terlalu lapar dan meminta disegerakan atas pemenuhan haknya. Maka berhentilah sebentar, dan berilah jeda waktu untuknya. Biarkan manusiawi sebuah hatimu itu bertemu dengan yang menciptakannya. Biarkan rongga kosong itu terpenuhi oleh kebutuhan akan kedekatan dengan tuhannya. Biarkan dia belajar untuk menginsyafkan kembali prajurit indrawinya yang mungkin masih masih bandel untuk berada dalam kebaikan.
Biarkan sebentar dia menjadi penyaring untuk membedakan yang benar dan salah. Dan biarkan lebih lama, dia menuntunmu untuk menyegarkan dan menyemangatimu kembali, sehingga keluhan dan kelelahanmu bisa diselesaikan olehnya.
Saat kau telah begitu lelah… beristigfarlah atas apa yang telah membuatmu seperti itu dan kemudian istirahatkan kelelahanmu, selanjutnya serahkan urusanmu kepada yang Maha terjaga, Allah Subhanahu Wata’la.
Begitulah Aku
Salam ON
Lama sudah meninggalkan jejak, bukan karena kesibukan yang mengasyikan tapi memang karena hilangnya nafsu membara didalam dada (baca: gombal lebay 100%) utnuk melakukan kata sepakat sebuah postingan yang menginspirasi, namun karena mood bicara beda...hilanglah sudah tulisan yang menuntut untuk menjadi sebuah kata penuh makna.
Begitulah aku
Mulai lagi meniti jalan yang pernah tercatatsebagai sebuah resolusi 2014, mulai membingkai lagi langkah-langkah kecil ini agar bernilai baik dan tidak hilang arah tuju dan hilang tanpa lambaian tangan.
Begitulah aku
Cukup postingan ini dulu sebagai sebuah awal dari ketiadaaan gerak yang menyebabkan blog yang bertema optimis ini melakukan transformasi jati diri melakukan ekspansi generik...mulai lagi kata-kata nyeleneh membanjiri otak ini...tapi akautak kan menulis bahwa akau akan mewakafkan diri ini untuk blog ini, kata ahli bahasa kata-kata itu menjadi hilang makananya.
Begitulah aku
Postingan ditengah rapat yang molor
Salam ON
Lama sudah meninggalkan jejak, bukan karena kesibukan yang mengasyikan tapi memang karena hilangnya nafsu membara didalam dada (baca: gombal lebay 100%) utnuk melakukan kata sepakat sebuah postingan yang menginspirasi, namun karena mood bicara beda...hilanglah sudah tulisan yang menuntut untuk menjadi sebuah kata penuh makna.
Begitulah aku
Mulai lagi meniti jalan yang pernah tercatatsebagai sebuah resolusi 2014, mulai membingkai lagi langkah-langkah kecil ini agar bernilai baik dan tidak hilang arah tuju dan hilang tanpa lambaian tangan.
Begitulah aku
Cukup postingan ini dulu sebagai sebuah awal dari ketiadaaan gerak yang menyebabkan blog yang bertema optimis ini melakukan transformasi jati diri melakukan ekspansi generik...mulai lagi kata-kata nyeleneh membanjiri otak ini...tapi akautak kan menulis bahwa akau akan mewakafkan diri ini untuk blog ini, kata ahli bahasa kata-kata itu menjadi hilang makananya.
Begitulah aku
Postingan ditengah rapat yang molor
Salam ON
Subscribe to:
Posts (Atom)


