Memperhatikan dan mengamati lebih dekat seorang kawan seperjuangan yang akan atau sedang mempersiapkan sidang viva voce, memang banyak kekhawatiran dan ketakutan-ketakutan yang seakan-akan datang menjelma silih berganti seperti bergantinya siang dan malam....hiperbol sekaleh!
Dari mempersiapkan slide presentasi, sampai mempersiapkan mental itu mungkin jauh lebih penting lagi, mungkin termasuk saya nantinya, akan menghadapi dan mengalami hal yang sama, berhubungan dengan takdir atau mengalami dan merasai bagaimana perjalanan itu berawal dan akan berakhir, mempertahankan ide serta gagasan agar dapat menjadi pembelajar yang tak kenal takut untuk ditanya-tanya.....
Nama kamu siapa?
Perkenalkan nama saya rasa gugup dan gemetar yang baru datang sekejap saja, yang baru mampir untuk memperlihatkan dan untuk membuktikan bahwa aku, dia, kita adalah manusia biasa yang selalu duduk gemeteran (DUGEM) ketika sedang presentasi....
MINOR!
Itulah keputusan yang mulai saya rencanakan dari sekarang menjelang dua bulan kedepan, ya...minor correction atau tidak sampai major, InsyaAllah.
Selamat berjuang, semoga berjaya....
Coming soon!
Thursday, April 12, 2012
Monday, April 9, 2012
Duduk sini nak!
Duduk sini nak!
Jangan terlalu jauh duduknya, nanti suara saya tidak terdengar, mari kita lupakan sebentar tentang 'terapi dirimu' itu, selonjorkan saja kakimu, pusatkan pikiranmu dalam sebuah kata "BERSAMA", bukan untuk kata egois atau kata iri dengki.
Jangan pikirkan semua sendirian, kan ada teman-teman yang siap membantu, kan ada banyak solusi yang sesuai dan pas, berjalan bedampingan sambil bergandengan dengan segala hormat dan sepanjang jalan saling bercengkrama dengan make-up bernama sederhana.
Duduk sini nak!
Apakah ada hubungan yang sangat kuat dari mercedes mu, dari latar belakang rumahmu, dari tadi hanya membicarakan harta 7 turunan yang kau garis atasi. Sebentar, apakah kau sudah tidak rindu dengan kata sederhana, tidak lagi rindu dengan kata 'bersama'. Jadi jangan sangat merendahkan dirimu, jangan menyedihkan dirimu dalam timbunan beban masa silam.
Lihatlah semua pasti berganti! detik saja berganti dari satu ke satunya lagi terus sampai satu lagi.
Duduk sini nak!
Jangan terlalu jauh duduknya, nanti suara saya tidak terdengar, mari kita lupakan sebentar tentang 'terapi dirimu' itu, selonjorkan saja kakimu, pusatkan pikiranmu dalam sebuah kata "BERSAMA", bukan untuk kata egois atau kata iri dengki.
Jangan pikirkan semua sendirian, kan ada teman-teman yang siap membantu, kan ada banyak solusi yang sesuai dan pas, berjalan bedampingan sambil bergandengan dengan segala hormat dan sepanjang jalan saling bercengkrama dengan make-up bernama sederhana.
Duduk sini nak!
Apakah ada hubungan yang sangat kuat dari mercedes mu, dari latar belakang rumahmu, dari tadi hanya membicarakan harta 7 turunan yang kau garis atasi. Sebentar, apakah kau sudah tidak rindu dengan kata sederhana, tidak lagi rindu dengan kata 'bersama'. Jadi jangan sangat merendahkan dirimu, jangan menyedihkan dirimu dalam timbunan beban masa silam.
Lihatlah semua pasti berganti! detik saja berganti dari satu ke satunya lagi terus sampai satu lagi.
Duduk sini nak!
1:40 am
Malam yang mulai kelam, bukan berarti NURANI juga dapat menjadi abu-abu, sepertinya rumah adalah jawaban atas segala sepi yang terperikan disini.Sepertinya sapaan purnama sudah mulai lewat dengan tenang bersama lilitan kesibukan seharian tadi.
JAUH!
Bukan karena karawang-bekasi yang tidak tahu tarif dasarnya berapa, tetapi karena jauh-dekat biasanya harganya sama, semoga kita dapat kembali ber-ikhlas diri, bukan karena berhitung dari 1 sampai 100, tapi karena kodok tak juga memanggil hujan, lalu kenapa pawang hujan juga berkata "no rain" sekarang sudah dapat dibeli ditoko klontong sebelah rumah..
SABAR!
Itulah kenapa kata 'sabar' selalu sesabar dirinya, sebut saja dia sangat sabar bangets, agar tak pernah dibatasi sampai kapan atau sekan mendekati garis batas semu sebuah pencapaian, jangan-jangan kita saja yang tidak sabar untuk berkata sabar, sepertinya tulisan ini pun membuat diri ini menjadi tidak sabar untuk cepat-cepat berhenti....sabar ya yang sedang membaca karena yang menulis juga sedang belajar bersabar untuk segera menetapkan tanda titik.
Pagi yang mulai mengetuk bilik hati, diantara desiran embun yang mulai mengering tergetar semilir angin, kicau pagi kemarin seakan terus memberikan semangat yang memaksa diri terus-menerus bercermin, sudahkan merasa ganteng? sudah dari dulu jawabku PeDe.
I just closed my eyes
JAUH!
Bukan karena karawang-bekasi yang tidak tahu tarif dasarnya berapa, tetapi karena jauh-dekat biasanya harganya sama, semoga kita dapat kembali ber-ikhlas diri, bukan karena berhitung dari 1 sampai 100, tapi karena kodok tak juga memanggil hujan, lalu kenapa pawang hujan juga berkata "no rain" sekarang sudah dapat dibeli ditoko klontong sebelah rumah..
SABAR!
Itulah kenapa kata 'sabar' selalu sesabar dirinya, sebut saja dia sangat sabar bangets, agar tak pernah dibatasi sampai kapan atau sekan mendekati garis batas semu sebuah pencapaian, jangan-jangan kita saja yang tidak sabar untuk berkata sabar, sepertinya tulisan ini pun membuat diri ini menjadi tidak sabar untuk cepat-cepat berhenti....sabar ya yang sedang membaca karena yang menulis juga sedang belajar bersabar untuk segera menetapkan tanda titik.
Pagi yang mulai mengetuk bilik hati, diantara desiran embun yang mulai mengering tergetar semilir angin, kicau pagi kemarin seakan terus memberikan semangat yang memaksa diri terus-menerus bercermin, sudahkan merasa ganteng? sudah dari dulu jawabku PeDe.
I just closed my eyes
Monday, April 2, 2012
Gerah melanda
Mendeskripsi siang ini, bukan karena merasa jengah dengan panas yang membakar aspal seputar gambang, tapi karena memang menelusuri jalan panas berhawa penat, lepas sedikit dan mengusik banyak hal, apakah ini yang diinginkan. Enggak 1001%.
Bukan karena berusaha ketakutan akan panas dan takut badan jadi keling, tapi karena silaunya sinar surya membakar iris mata, kemana nanti akan bersembunyi jika waktu akhir tiba???
12:30 berlindung dalam dinding berpenyejuk, memandangi kumpulan tas-tas yang berserakan, kotak-kotak yang belum lagi penuh terisi, karena sekarang sedang cuti bersama, So, selamat datang panas, selamat datang sumu, gerah....
@Library
Bukan karena berusaha ketakutan akan panas dan takut badan jadi keling, tapi karena silaunya sinar surya membakar iris mata, kemana nanti akan bersembunyi jika waktu akhir tiba???
12:30 berlindung dalam dinding berpenyejuk, memandangi kumpulan tas-tas yang berserakan, kotak-kotak yang belum lagi penuh terisi, karena sekarang sedang cuti bersama, So, selamat datang panas, selamat datang sumu, gerah....
@Library
GELAP itu TERANG
GELAP!
Hitam pekat, tanpa sinar, redup kurang sinar lalu berbayang terbenam
Atau hitam buram, sinar hitam, miskin warna, kerontang-tang
Hitam itu pekat, jenderal! Pekat
TERANG!
Sinar itu cahaya, siapa?
bukan gelap terus
Siapakah dia duhai terang?
bukan hitam lagi
GELAP itu TERANG
apalagi TERANG boleh GELAP!
Dimanakah itu semua hai,
Tan Malaka???
Hitam pekat, tanpa sinar, redup kurang sinar lalu berbayang terbenam
Atau hitam buram, sinar hitam, miskin warna, kerontang-tang
Hitam itu pekat, jenderal! Pekat
TERANG!
Sinar itu cahaya, siapa?
bukan gelap terus
Siapakah dia duhai terang?
bukan hitam lagi
GELAP itu TERANG
apalagi TERANG boleh GELAP!
Dimanakah itu semua hai,
Tan Malaka???
PAPER cLIPS
1.50 rm
Seminggu yang lalu, tercetus ide gila tapi gak brilian bangets tapi bruani malu beruani kotor plus katro, kefikiran bukan kepikiran nge-beli paper clips. Yak, sebuah kotak berwarna kuning berbandrol seperti diatas dengan kadar ringgit, dengan merk dagang Astar.
Clips, warna berwarna-warni mu itu tuh...semoga bukan karena terpaksa untuk menarik perhatianku, tapi harusnya kamu sadar dengan sesadar-sadarnya, bahwa warna itu bukan segala-galanya, akan tetapi ketahuilah duhai clips, warna itu adalah "sesuatu", entah kau pernah nonton sinetron atau denger sandiwara radio.
CLIPS....
100 pcs, percaya 100%, bukan karena paling jujur sedunia, tapi karena memang aku males ngitungin, apalagi kalo lagi jail bin iseng, misah-misahin warna-warnamu yang berderet layaknya pelangi. KUNING, itulah pilihan pertama ku dalam menyelipkan dirimu di atas paper berdurasi 25 lembar (jangan dibayangin banyaknya)...dan percayalah sekarang masih tersisa "sekian" ini maksudnya bukan karena males ngitung, tapai emang karena maleeeeees banget luar binasa.
Dengan ini, aku sematkan clips bersama paperku yang guanteng...dibayar TUNAI!
Mohon para pembaca memberikan kata sambitan, jangan sambutan (kelamaan), untuk makanan yang belom tersedia agar silahkan dibawa ke kantor polisi untuk dimintakan legalisir dan buat SKKB!
selamat ya CLIPS! cekrik (bunyi sepeda motor????)
Seminggu yang lalu, tercetus ide gila tapi gak brilian bangets tapi bruani malu beruani kotor plus katro, kefikiran bukan kepikiran nge-beli paper clips. Yak, sebuah kotak berwarna kuning berbandrol seperti diatas dengan kadar ringgit, dengan merk dagang Astar.
Clips, warna berwarna-warni mu itu tuh...semoga bukan karena terpaksa untuk menarik perhatianku, tapi harusnya kamu sadar dengan sesadar-sadarnya, bahwa warna itu bukan segala-galanya, akan tetapi ketahuilah duhai clips, warna itu adalah "sesuatu", entah kau pernah nonton sinetron atau denger sandiwara radio.
CLIPS....
100 pcs, percaya 100%, bukan karena paling jujur sedunia, tapi karena memang aku males ngitungin, apalagi kalo lagi jail bin iseng, misah-misahin warna-warnamu yang berderet layaknya pelangi. KUNING, itulah pilihan pertama ku dalam menyelipkan dirimu di atas paper berdurasi 25 lembar (jangan dibayangin banyaknya)...dan percayalah sekarang masih tersisa "sekian" ini maksudnya bukan karena males ngitung, tapai emang karena maleeeeees banget luar binasa.
Dengan ini, aku sematkan clips bersama paperku yang guanteng...dibayar TUNAI!
Mohon para pembaca memberikan kata sambitan, jangan sambutan (kelamaan), untuk makanan yang belom tersedia agar silahkan dibawa ke kantor polisi untuk dimintakan legalisir dan buat SKKB!
selamat ya CLIPS! cekrik (bunyi sepeda motor????)
Krik...jang....krik
Sepertinya perasaaan hati mulai terbiasa melihat gelapnya malam negeri jiran dari atas tingkat tiga, sebuah asrama pelajar universiti yang membutuhkan waktu 3 jam dari kota besar.
Seminggu kedepan jendela asrama pelajar mulai tertutup rapat-rapat, libur setelah mid-semester membuat jangkrik-jangkrik berpesta-pora, menyuarakan kesepian kita yang tak terbahasakan oleh batu yang dipijak sang jangkrik, selamat berkonser ria ya, krik (nama okem jangkrik). Gak usah heran kenapa jangkrik jadi tertuduh, padahal sang jangkrik telah berusaha membela rakyatnya agar BBM (baca: bukan bahan bakar minyak, tetapi Bahan Bakar Me-ngerik...sebab itulah bahan bakar yang digunakan para jangkrikers).
Krik oh jangkrik, malam ini jangan kenceng-kenceng ya suaranya, sungguh mati-bosan yang luar biasa kau mendendangkan bahasa kalbu yang rada urakan ditengah kebon sawit seluas mata memandang. Lontong ya, jangan tolong, nanti bisa kenyang (bukan bahasa daerah bali). Gak masuk akal memang, apalagi masuk angin, wah bisa repot urusannya krik...kalo boleh terilah sebuah rikues dari ku..."Sendu-sedan" by galau band.
Lagi-lagi jarum pendek mulai pe-de-ka-te dengan angka 2 pagi, tapi kenapa irama 'mengeongmu' itu tak juga membuatku mengantuk....Hmmmm, padahal milo (bukan nama paslu eh falsu eh..lapsu...HALAH, susah banget pengen bilang asli aja...nah, bedakan! pegangan deh) diulang ah, milo hangat sudah habis bergalon-galon (agak hiperbol memang) tapi itulah malam yang pekat dinikmati diantara kepulan asap milo hangat.
Krik....satu album lagu dong!!!
Seminggu kedepan jendela asrama pelajar mulai tertutup rapat-rapat, libur setelah mid-semester membuat jangkrik-jangkrik berpesta-pora, menyuarakan kesepian kita yang tak terbahasakan oleh batu yang dipijak sang jangkrik, selamat berkonser ria ya, krik (nama okem jangkrik). Gak usah heran kenapa jangkrik jadi tertuduh, padahal sang jangkrik telah berusaha membela rakyatnya agar BBM (baca: bukan bahan bakar minyak, tetapi Bahan Bakar Me-ngerik...sebab itulah bahan bakar yang digunakan para jangkrikers).
KRIK...KRIK...KRIK!
Krik oh jangkrik, malam ini jangan kenceng-kenceng ya suaranya, sungguh mati-bosan yang luar biasa kau mendendangkan bahasa kalbu yang rada urakan ditengah kebon sawit seluas mata memandang. Lontong ya, jangan tolong, nanti bisa kenyang (bukan bahasa daerah bali). Gak masuk akal memang, apalagi masuk angin, wah bisa repot urusannya krik...kalo boleh terilah sebuah rikues dari ku..."Sendu-sedan" by galau band.
Lagi-lagi jarum pendek mulai pe-de-ka-te dengan angka 2 pagi, tapi kenapa irama 'mengeongmu' itu tak juga membuatku mengantuk....Hmmmm, padahal milo (bukan nama paslu eh falsu eh..lapsu...HALAH, susah banget pengen bilang asli aja...nah, bedakan! pegangan deh) diulang ah, milo hangat sudah habis bergalon-galon (agak hiperbol memang) tapi itulah malam yang pekat dinikmati diantara kepulan asap milo hangat.
Krik....satu album lagu dong!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)