
Apakah tak siap menang, apakah terlalu banyak berharap sehingga impian indah tak juga berganti, apakah rasa bangga tak dapat menyelip dan merasakan secuil damai walau sekejap.
Kita semua merupakan harapan, semua cita dan cinta; adalah milik hari esok yang terus menanti, jadi pecundang atau tak jadi pemenang apakah akan berarti. dalam Mungkin tak kan pernah hilang makna irama langit biru yang tak bertuan lagi ditinggal mati, telah terbentang luaskah pergantian generasi penjaga masa depan yang mendamaikan sepanjang hari.
Ku tidak pula lupakan terseoknya hidup meninti kegelisihan yang mulai beranjak pergi jauh dan hilang ditelan lambaian tangan..........jauuuuh. Ingatlah kawan ketika ku juga pernah berlairian bersamamu, menantang masa depan, pernah juga kitaterjatuh terbaring amati langi-langit malam, dan aku juga pernah mengenang langkahku yang kian bersemi dipermulaan gerimis yang mulai mereda dipinggir pematang hatimu, tidak akan hilangkah dari kalbumu itu kawan. Kampungku adalah memori terpendam sepanjang masa, engkau kuhargai walau sebatang kara, apakah napasmu telah membuka peluang dalam-dalam, apakah kepak telingamu semakin membumbung semangat mencaci tangisanku yang tak pernah berhenti menjadi harimau pemalu, ataupun sikapmu yang terngiang-ngiang dijendela hati tetangga, apalagi pelita kejora itu kini telah habis sirna semerta-merta yang siap bergoyang lidah bercerita.
Sial memang bukan kata yang cocok meluluh lantahkan kesepian yang datang menggelitiki dan menggerayangi kerinduanku untuk beranjak pulang. Birunya langit disini memberi arti ketentraman lubuk jiwa tak berpendar, bagiku kebohongan mimpi buruk mendera cobaan dan menguatkan artikulasi kebertahanan semu, berjuta metode bahasa puitik berbakti mengisi blog reseh ini, tak kembali mengenal waktu seakan saling berpegangan dengan kebiasaan positif yang sedikit otodidak karatan.
Hidup pasti memilih kepastian, atau mungkin ku salah mengekspresikan arti cinta yang sesungguhnya, tetapi hati ini juga yang memaksa selalu berhimpitan dengan kekosongan jalan yang berusaha terlelap sendiri. Tetapi hatiku memang selalu membuat langkah baru agar tak berhenti, berharap tak terjatuh dan menjadi seumur jagung, berharap tak melewati rute yang menjadi legenda para pujangga dan bestari, walau kupulang tanpa canda tawa tapi ku lihat terang senyumnya itu, yang telah membuat terang jiwa ini pun menenang, sudah pasti kan kuledeki ungkapanku yang lebih banyak narsis dan opurtunis bin skeptis, tapi bukan rindu yang kesiangan yang ku bawa pulang, bukan juga meratapi galian panjang masa depan yang cenderung mem-boring-kan. Ingatlah kawan, kau pernah gariskan dengan indah tanpa ruas nyata, tanpa luka yang menghampiri, kau memang memberiku rasa yang berbeda, ku rasa ku tak salah mengartikan cinta tulus yang meninggikan kata setia sebagai bendera dan genderang sederhana sebagai selimut hangatnya. Sudahlah, kuberi kau kata sayang, titik!
Kusimpan untukku sendiri....I'm Coming Home
Kita semua merupakan harapan, semua cita dan cinta; adalah milik hari esok yang terus menanti, jadi pecundang atau tak jadi pemenang apakah akan berarti. dalam Mungkin tak kan pernah hilang makna irama langit biru yang tak bertuan lagi ditinggal mati, telah terbentang luaskah pergantian generasi penjaga masa depan yang mendamaikan sepanjang hari.
Ku tidak pula lupakan terseoknya hidup meninti kegelisihan yang mulai beranjak pergi jauh dan hilang ditelan lambaian tangan..........jauuuuh. Ingatlah kawan ketika ku juga pernah berlairian bersamamu, menantang masa depan, pernah juga kitaterjatuh terbaring amati langi-langit malam, dan aku juga pernah mengenang langkahku yang kian bersemi dipermulaan gerimis yang mulai mereda dipinggir pematang hatimu, tidak akan hilangkah dari kalbumu itu kawan. Kampungku adalah memori terpendam sepanjang masa, engkau kuhargai walau sebatang kara, apakah napasmu telah membuka peluang dalam-dalam, apakah kepak telingamu semakin membumbung semangat mencaci tangisanku yang tak pernah berhenti menjadi harimau pemalu, ataupun sikapmu yang terngiang-ngiang dijendela hati tetangga, apalagi pelita kejora itu kini telah habis sirna semerta-merta yang siap bergoyang lidah bercerita.
Sial memang bukan kata yang cocok meluluh lantahkan kesepian yang datang menggelitiki dan menggerayangi kerinduanku untuk beranjak pulang. Birunya langit disini memberi arti ketentraman lubuk jiwa tak berpendar, bagiku kebohongan mimpi buruk mendera cobaan dan menguatkan artikulasi kebertahanan semu, berjuta metode bahasa puitik berbakti mengisi blog reseh ini, tak kembali mengenal waktu seakan saling berpegangan dengan kebiasaan positif yang sedikit otodidak karatan.
Hidup pasti memilih kepastian, atau mungkin ku salah mengekspresikan arti cinta yang sesungguhnya, tetapi hati ini juga yang memaksa selalu berhimpitan dengan kekosongan jalan yang berusaha terlelap sendiri. Tetapi hatiku memang selalu membuat langkah baru agar tak berhenti, berharap tak terjatuh dan menjadi seumur jagung, berharap tak melewati rute yang menjadi legenda para pujangga dan bestari, walau kupulang tanpa canda tawa tapi ku lihat terang senyumnya itu, yang telah membuat terang jiwa ini pun menenang, sudah pasti kan kuledeki ungkapanku yang lebih banyak narsis dan opurtunis bin skeptis, tapi bukan rindu yang kesiangan yang ku bawa pulang, bukan juga meratapi galian panjang masa depan yang cenderung mem-boring-kan. Ingatlah kawan, kau pernah gariskan dengan indah tanpa ruas nyata, tanpa luka yang menghampiri, kau memang memberiku rasa yang berbeda, ku rasa ku tak salah mengartikan cinta tulus yang meninggikan kata setia sebagai bendera dan genderang sederhana sebagai selimut hangatnya. Sudahlah, kuberi kau kata sayang, titik!
Kusimpan untukku sendiri....I'm Coming Home