
Masih saja terbersit sebentuk coklat yang pernah mampir di hatiku, bukan karena warnanya yang kusam, sumu dan butek, bukan juga rasa yang membedakan antara coklat racikan swiss dengan racikan cap ayam jago, tapi itu adalah coklat yang penah mengisi bungkus relung sepi kalbu diri.
Maafkan, bila coklat itu tak lagi kusimpan, sepenuh hati tak kurelakan kau lumer dimakan waktu dari terpaan cacian siang dan malam, ku harap kau mengerti adanya, jika kau pun masih bertanya ku jawab dengan penuh gundah, apalah arti sebuah coklat kalau kau tak menyadari bahwa kau adalah peracik alami yang akan menumbuhkan biji coklat terbaik sepanjang perjalanan kita nanti.
Sudahlah...percaya saja, sudahlah jauhi sisi hitam waktu silam, karena itu tak berati kosong atau tak membuat pagi ngiler diatas pelukan siang kerontang, sudahilah pandangan nanar yang mengatakan kau ragu,..
Oh iya, satu saja pertanyaan yang tak pernah kau jawab secara jujur setulus hati;
Kamu itu coklat bukan?
Selamat pagi cantik,