Sekarang aku panggil saja dia Mr. SUGAR (bpk gula), bukan karena orangnya manis, tapi karena banyaknya catatan sejarah kehidupan yang berlalu dan ter-manisi oleh rasa yang terbuat secara natural tanpa zat pewarna.
Mungkin tak seperti gerimis yang mulai meredup di belahan timur negeri ini, tapi karena banyaknya kantuk yang terbuat dan terletih oleh paksaan garis mati yang tidak boleh disebutkan satu-persatu. Sahabat sekamar kini terbatuk-batuk karena jahatnya angin menerpa sekujur badannya yang mulai rentak oleh serbuan 'problem statement' 4 tahun yang lalu saat membuka hutan PHd (baca Strata 3) ditempat ku berpijak sekarang.
Lain lagi dengan kisah 'pendonlot liar' semenjak berlangganan akun dunia perdonlotan, si kawan inipun mulai asyik masyuk dengan dunianya, asupan makan buat tubuhnya yang semata wayang terkadang harus jadi terpuaskan dengan kopi hitam gaya dukun dan soda 'gembira' berlebel coke yg selalu 'always' kola, yang tidak pernah 'never'...ngelantur.com
Pendonlot liar kini mulai mendiami sarangnya lagi, seribu satu tanya dan dilema mungkin yang mulai memaksa memasung dirinya di pojok padepokan dunia ngamar-mengamar, walau istilahnya dekat dengan 'lumbung padi' bernama dapur umum yang siap mengebul, tangannya tak pernah lagi mengasah kemampuannya membuat 'lodeh' ataupun membuat 'sambel belacan cinta'...ya, sudahlah.
Kembali kepada tuan gula yang mulai tersibukkan oleh aksi 'on jreng' nya yang tak terstuktur tapi cukup meresahkan kosmos pegasus berlogo tengkorak sableng berlabel 212 dan tertulus 'Do'a ibu', bapak gulaku hanya bisa berpasrah atas laku hari yang terkisar 1 bulan lagi, siap gak siap..kumpulin, si bapak gulaku ini rupanya mempersiapkan kepulangannya ke negeri impian seperti 'silent mood' tak ada angin tak ada hujan, pulang bersama pasukan bergenre 'BO (bimbingan orang tua)', OPTIMIS itulah kata yang pasti terbuat.
Terima kasih bapak gulaku,